Selasa, 14 Maret 2017

TUGAS TERSTRUKTUR TATAP MUKA KE 6 DAN 7

TUGAS TERSTRUKTUR TATAP MUKA KE 6 DAN 7

Metoda yang umumnya digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar pada konsep tersebut adalah ceramah atau pembelajaran klasikal. Pembelajaran klasikal atau pembelajaran yang diberikan secara masal, ataupun kepada suatu kelompok besar sangat efektif untuk menyampaikan informasi. Dengan mengutarakan masalah sekali saja, masalah tersebut dapat sampai kepada banyak pendengar. Tetapi walau demikian guru harus mempertimbangkan seberapa banyak siswa paham dengan apa yang mereka dengar. Permasalahan yang datang ketika guru menjelaskan konsep bentuk molekul dengan metoda ceramah dan hanya menggunakan papan tulis sebagai media untuk menggambar bentuk molekul secara satu dimensi ternyata banyak siswa yang belum mampu memahami bentuk molekul tersebut secara tiga dimensi. Contoh permasalahan tersebut adalah siswa tidak dapat membedakan bentuk molekul segi tiga planar dengan segi tiga piramida, karena dalam gambar satu dimensi bentuk molekul segitiga planar dan segitiga pyramid sangat mirip apalagi jika guru yang menggambar tidak menguasai teknik menggambar tiga dimensi. Untuk membantu siswa memahami konsep-konsep abstrak, seharusnya guru menggunakan alat bantu belajar atau media yang dapat memberikan gambaran kongkrit kepada siswa sehingga belajar ikatan kimia bukan hanya sekedar menghafal tetapi lebih dari memahami konsep ikatan kimia secara menyeluruh. 
Penggunaan alat peraga bertujuan agar proses belajar dapat berlangsung efektif dan dapat membantu siswa dalam memahami konsep ikatan kimia dalam bentuk visual sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Penggunaan alat peraga dalam proses pembelajaran dapat mengurangi cara belajar siswa secara individu, sebaliknya memotivasi siswa untuk belajar secara kelompok dalam rangka menumbuhkan kreativitas, saling membantu dalam memahami materi sehingga ketuntasan belajar dapat tercapai.  
Ikatan ion (atau ikatan elektrokovalen) adalah jenisikatan kimia yang dapat terbentuk antara ion-ionlogam dengan non-logam (atau ion poliatomik seperti amonium) melalui gaya tarik-menarik elektrostatik. Dengan kata lain, ikatan ion terbentuk dari gaya tarik-menarik antara dua ion yang berbeda muatan.

untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada link berikut :

https://youtu.be/EDA1LI-ko1E
Presentasi E-Learning Kimia Hasil Pengembangan

Pada kali ini kami menggunakan situs Edmodo untuk membuat program e-learning pada www.edmodo.com 
Salah satu aplikasi pada internet yang bisa digunakan untuk media pembelajaran online adalah Edmodo. Edmodo merupakan social network berbasis lingkungan sekolah (school based environment). Dikembangkan oleh Nicolas Borg and Jeff O’Hara, Edmodo adalah platform pembelajaran yang aman bagi guru, siswa dan sekolah berbasis sosial media. Edmodo menyediakan cara yang aman dan mudah bagi kelas untuk terhubung dan berkolaborasi antara siswa dan guru untuk berbagi konten pendidikan, mengelola proyek dan tugas dan menangani pemberitahuan setiap aktivitas. Edmodo dapat membantu pengajar membangun sebuah kelas virtual sesuai dengan kondisi pembelajaran di dalam kelas, berdasarkan pembagian kelas nyata di sekolah, dimana dalam kelas tersebut terdapat penugasan, quiz dan pemberian nilai pada setiap akhir pembelajaran.
Penggunaan media pembelajaran online sebagai sistem pembelajaran yang baru, mendorong penyelenggaraan pembelajaran semakin efektif. Dengan media pembelajaran online dimungkinkan banyak pembelajaran yang diperoleh sehingga memberikan pelayanan kepada siswa lebih memuaskan. Idealnya pengajar dan pembelajar senantiasa mengakses berbagai informasi dengan cepat, bertanggung jawab dan sesuai harapan.
berikut beberapa gambar screenshoot dari e-learning yang kami buat dimana saya berperan sebagai murid :







Media pembelajaran online merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet. Media pembelajaran online sebagai sebuah alternatif pembelajaran yang berbasis elektronik memberikan banyak manfaat terutama terhadap proses pendidikan yang dilakukan dengan jarak jauh. Dalam membuat media pembelajaran online perlu mempertimbangkan harapan dan tujuan mereka dalam mengikuti media pembelajaran online, kecepatan dalam mengakses internet atau jaringan, keterbatasan bandwidth, biaya untuk akses internet, serta latar belakang pengetahuan yang menyangkut kesiapan dalam mengikuti pembelajaran. Dengan media pembelajaran online menggunakan Edmodo, interaksi dan komunikasi di dalam kelas dapat terjalin layaknya pada kelas konvensional, di mana setiap siswa dapat dengan bebas berkomunikasi dan berbagi dengan guru dan teman sekelasnya, untuk merespon materi yang disampaikan.


MEDIA POWERPOINT SEBAGAI PERSENTASE MULTIMEDIA PEMBELAJARAN KIMIA HASIL PENGEMBANGAN
Pembelajaran kimia hasil pengembangan dapat di lakukan pada mataeri kimia  yaitu “Penurunan Titik Beku”.Media penyampaiaan yang digunakan adalah Powerpoint. Power Point adalah alat bantu presentasi, biasanya digunakan untuk menjelaskan suatu hal yang dirangkum dan dikemas dalam slide Power Point. Sehingga pembaca dapat lebih mudah memahami penjelasan kita melalui visualisasi yang terangkum di dalam slide. 
Aplikasi multimedia dalam proses pembelajaran ditujukan untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) serta merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga proses pembelajaran mencapai tujuan dan dapat terkendali. Pengembangan media presentasi harus dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan media pembelajaran. Yang harus diperhatikan dalam membuat bahan ajar dengan menggunakan power point adalah isi materi yang akan disampaikan dan cara menyajikannya kepada siswa. Sehingga penggunaan power point pada proses pembelajaran dapat maksimal. 
Penggunaan media pada proses pembelajaran dapat membantu untuk tercapainya tujuan intruksional. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan media pembelajaran multimedia presentasi, yaitu berupa power point. Multimedia ini dipilih, karena dalam penggunaannya melibatkan berbagai indera sehingga siswa dapat belajar dengan mudah. Semakin banyak alat indera yang digunakan unuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan. Pendapat ini sejalan dengan kerucut pengalaman dari Edgar Dale. 


Dibawah ini merupakan Slide Power point yang ditampilkan untuk presentasi multimedia pembelajaran kimia hasil pengembangan:







Sabtu, 04 Maret 2017


Presentasi Multimedia pembelajaran kimia Hasil Pengembangan

Titik beku larutan ialah suhu pada saat larutan mulai membeku. Adapun yang dimaksud dengan penurunan titik beku (∆Tf) adalah selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan akibat adanya suatu zat terlarut. Zat terlarut lebih suka terlarut di fasa cair sehingga akan berusaha mempertahankan dalam bentuk larutan daraipada untuk membeku. Adanya zat terlarut akan mengganggu kaya kohesif normal antar partikel pelarut, akibatnya semakin sulit bagi partikel pelarut untuk dapat membentuk struktur kristal. Suhu yang lebih rendah diperlukan untuk penataan ulang struktur kristal pelarut-terlarut.
Penurunan titik beku adalah selisih antara titik beku pelarut dan titik beku larutan dimana titik beku larutan lebih rendah dari titik beku pelarut.Titik beku pelarut murni adalah 0ºC dengan adanya zat terlarut misalnya saja gula yang ditambahkan ke dalam air maka titik beku larutan ini tidak akan sama dengan 0ºC melainkan akan menjadi lebih rendah di bawah 0oC itulah penyebab terjadinya penurunan titik beku yaitu oleh masuknya suatu zat terlarut atau dengan kata lain cairan tersebut menjadi tidak murni, maka akibatnya titik bekunya berubah (nilai titik beku akan berkurang). Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat terlarut).
Apabila suatu pelarut ditambah dengan sedikit zat terlarut, maka akan didapat suatu larutan yang mengalami:
1. Penurunan tekanan uap jenuh
2. Kenaikan titik didih
3. Penurunan titik beku
4. Tekanan osmosis

Titik beku suatu cairan adalah suhu ketika tekanan uap cairan itu sama dengan tekanan uap dalam keadaan padat. Dada pembekuan suatu larutan, yang mengalami pembekuan adalah hanya pelarutnya saja, sedangkan zat terlarut tidak ikut membeku. Adanya zat terlarut mengakibatkan suatu pelarut semakin sulit membeku, akibatnya titik beku larutan akan lebih rendah dibandingkan dengan titik beku pelarut murninya. Selisih antara titik beku larutan dengan titik beku pelarut murninya disebut penurunan titik beku larutan.
Percobaan-percobaan juga menunjukkan bahwa penurunan titik beku tidak bergantung kepada jenis zat terlarut, tetapi hanya bergantung pada konsentrasi larutan. Tetapan penurunan titik beku molal adalah nilai penurunan titik beku jika konsentrasi larutan sebesar satu molal.
Proses Pembekuan Larutan
Penurunan titik beku dapat dihitung dengan rumus berikut:
                        ∆Tf  = titik beku pelarut – titik beku larutan
Sifat koligatif  larutan adalah sifat fisis larutan yang hanya tergantung pada jumlah partikel zat terlarut dan tidak tergantung dr jenis zat terlarut. Dengan mempelajari sifat koligatif larutan, akan menambah pengetahuan kita tentang gejala-gejala di alam, dan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan, misalnya:mencairkan salju dijalan raya, menggunakan obat tetes mata atau cairan infuse, mendapatkan air murni dari air laut, menentukan massa molekul relative zat terlarut dalam larutan, dan masih banyak lagi. Yang tergolong sifat koligatif larutan adalah: penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku dan tekanan osmotik dari larutan.
Titik beku tertinggi hingga terendah yaitu, air murni, gula lalu garam. Penurunan titik beku sebanding dengan konsentrasi zat terlarut. Bila konsentrasi zat terlarut semakin besar, maka  penurunan titik beku juga semakin besar, dan sebaliknya. Jadi, dengan adanya zat terlarut di dalam air, maka titik beku air menjadi lebih rendah dari 0ºC pada tekanan 1 atm. 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKdzdCG1czf2jZSB9AOBnKUdPtMRY3qHXdZYrb2HY1Pnu3d_zGAiN2wXmUDI_Du529v1JJSvVyNi8c1fxRMcX-JctoysRmaFMaWhNFXBBisuPwZErOz3rvQwovbyeHWJYNvWkr4TyVzKk/s400/Diagram+P+-+T+larutan.JPG

Pada percobaan yang telah dilakukan sangat terlihat jelas perbedaan penurunan titik beku beberapa sampel. Hal ini disebabkan adanya partikel-partikel zat terlarut di antara moleku-molekul pelarut, yang akan mengurangi kemampuan molekul-molekul pelarut berubah dari fase cair ke fase padat. Jadi larutan akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murninya. Penambahan garam disini merupakan salah satu penerapan dari sifat koligatif larutan. Garam berfungsi sebagai zat yang menurunkan titik beku es batu sehingga es batu tidak cepat mencair, karena apabila tidak ada penambahan garam pada es batu, suhu didalam es batu akan lebih tinggi dari 0ºC pada saat es berubah menjadi liquid. Pada percobaan ini kita mengetahui adanya partikel zat terlarut yang tidak mudah menguap sehingga tekanan uap larutan lebih rendah daripada tekanan uap pelarut murni.
Semakin banyak waktu yang diberikan maka semakin rendah titik beku yang dihasilkan. Dari penelitian yang kami telah lakukan, kami dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
Penurunan titik beku dan kenaikan titik didih tidak tergantung pada komposisi kimia dari zat tersebut tetapi tergantung pada jumlah partikel zat terlarut di dalam larutan, kemolalan larutan, massa zat terlarut dan massa pelarutnya. Kenaikan titik didih dan penurunan titik beku larutan elektrolit lebih besar dari larutan nonelektrolit disebabkan adanya factor Van’t Hoff. Perbedaan hasil pengukuran menurut teori dengan pengamatan langsung disebabkan oleh ketidaktelitian dalam mengamati skala thermometer serta pengaruh suhu luar.



https://youtu.be/ZRJp0IAh-0E


Selasa, 28 Februari 2017

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

Pengertian e-learning pada umumnya terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut Gilbert & Jones adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses pembelajaran. Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet, intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan CD-ROM.
E-learning efektif, seperti halnya pembelajaran efektif secara umum harus memenuhi kriteria:
●   memacu peserta belajar ke dalam proses belajar,
●   menimbulkan keterampilan belajar mandiri,
●   mengembangkan keterampilan dan pengetahuan peserta belajar,
●   memotivasi belajar lebih lanjut.

Belajar efektif dapat terjadi apabila kesempatan belajar melibatkan:
●   sumber daya yang tepat,
●   modus (atau gabungan modus) deliveri yang tepat,
●   konteks yang tepat,
●   peserta belajar yang tepat,
●   level dukungan yang tepat.


Pembelajaran yang hanya dilakukan di kelas memiliki beberapa kelemahan, di antaranya sumber belajar terbatas, pembelajaran kurang efektif, dan tidak mampu mengakomodasi gaya dan kecepatan belajar siswa. Gaya belajar adalah suatu cara atau strategi seseorang dalam mengelola informasi. Kelemahan tersebut dapat diatasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang semakin maju dengan  mengembangkan media pembelajaran yang dapat mengakomodasi perbedaan gaya dan kecepatan belajar siswa. terlebih lagi dalam pembelajaran kimia sangat diperlukan media agar materi kimia yang cenderung susah dipahami oleh siswa dapat terbantu dengan adanya media yang mendukung. Oleh karena itu diperlukan sebuah media yang mampu memberikan nuansa baru dalam pembelajaran, memberikan beragam sumber belajar yang dapat diakses setiap saat oleh siswa, sehingga mampu mengakomodasi gaya dan kecepatan belajar siswa.
Media pembelajaran berbasis learning management system menjadi salah satu solusi yang bisa dipakai dalam proses pembelajaran. Beberapa alasan menggunakan media pembelajaran ini adalah
(a) terjadi peningkatan efektivitas pembelajaran dan prestasi akademik siswa,
(b) menambah kenyamanan,
(c) menarik lebih banyak perhatian siswa kepada materi yang disampaikan dalam pembelajaran, (d) dapat diterapkan dengan berbagai tingkat dan model pembelajaran, dan
(e) dapat menambah waktu pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dunia maya.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat berpotensi un-tuk
mendukung revolusi pembelajaran, dengan enam dimensi kunci :
(1)   Konektivitas: akses informasi secara global;
(2)   Fleksibilitas: belajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja;
(3)   Interaktivitas: interaksi antara pelajar dan materi pelajaran serta lingkungan belajar maupun sumber belajar dapat dilakukan seketika dan secara langsung;
(4)   Kolaborasi:  penggunaan  fasilitas  komunikasi  dan  diskusi  online  mendukung  pembelajaran kolaboratif di luar kelas;
(5)   Memperluas kesempatan: materi e-learning dapat memperkaya dan memperluas materi pembelajaran tatap muka; dan
(6)   Motivasi: pemakaian multimedia dapat membuat suasana belajar menyenangkan.

Pembelajaran kimia pada umumnya hanya terbatas pada penggunaan bahan ajar berupa buku teks dan LKS sehingga siswa kurang dapat memahami konsep mikroskopik. Lemahnya interaksi antara guru dengan siswa serta kecepatan belajar siswa yang seringkali dianggap sama juga merupakan kendala dalam pembelajaran kimia, maka dari itu usaha-usaha  peningkatan  kualitas  pembelajaran  kimia  saat  ini  terus  dilakukan,  termasuk peningkatan kualitas bahan ajar dan diversifikasi media pembelajaran. Peningkatan kualitas bahan  ajar  dan  diversifikasi  media  pembelajaran  diharapkan  mampu  mengakomodir kebutuhan siswa dalam menghadapi era teknologi informasi dan komunikasi dengan tidak meninggalkan faktor pemahaman dan keterampilan siswa dalam proses pembelajaran kimia.
Teknologi informasi dan komunikasi seharusnya menjadi alat sehari-hari dalam kegiatan belajar dan membelajarkan. Salah satu penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah pemanfaatan internet dalam proses pembelajaran yang disebut dengan e-learning. E-learning dapat diimplemantasikan dengan menggunakan alternatif tools yang disebut dengan LMS (Learning Management System).
Media pembelajaran berbasis LMS sangat berguna dalam menyediakan lingkungan/ suasana belajar yang lengkap bagi siswa, karena penuh dengan penyediaan dokumen yang terkait modul dalam format elektronik, kesempatan untuk saling belajar bersama-sama,dan kesempatan untuk menyerahkan semua penilaian sumatif secara elektronik. Alasan lain yang mendukung perspektif tersebut adalah bahwa setiap siswa memiliki akses ke semua konten pembelajaran, memiliki fleksibilitas waktu dan momen yang paling cocok untuk kebutuhan siswa dalam belajar, dapat belajar dengan kemampuan kecepatan belajar masing-masing, dan berpartisipasi dalam kesempatan belajar yang interaktif.

E-learning pada pembelajaran di sekolah-sekolah khususnya pembelajaran sains telah diterapkan sejak beberapa tahun yang lalu. Selain untuk tujuan pembelajaran, penerapan e-learning juga sebagai sarana untuk mengenalkan teknologi informasi kepada peserta didik. Namun sampai sekarang pemanfaatannya masih kurang optimal. Bahkan sebagian orang beranggapan bahwa penerapan e-learning hanya sekedar mengikuti trend saja tanpa menghiraukan apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai atau tidak. Oleh karena itu, penelitian atau kajian pustaka tentang implementasi e-learning khususnya pada pembelajaran sains perlu terus dilakukan.


Sistem e-learning terdiri atas beberapa komponen, yakni:
1.    komputer server yang dilengkapi dengan server Web dan sosftware LMS (learning management system) dan software pendukung lain,
2.    infrastruktur jaringan yang menghubungkan komputer klien ke server,
3.    komputer klien tempat mahasiswa dan dosen mengakses kelas online, dan
4.    bahan-bahan ajar yang disiapkan oleh dosen dan dimasukkan ke dalam kelas online.

Sesuai dengan model di atas, komponen-komponen yang diperlukan untuk membangun sistem e-learning meliputi:
(1) hardware server dengan spesifikasi yang memadai
(2) software untuk server: sistem operasi, server Web, dan server e-learning (LMS, learning management system), serta software-software pendukung lainnya (misalnya PHP, MySQL)
(3) komputer klien dengan spesifikasi dan cacah yang memadai untuk akses ke sistem e-learning secara online
(4) software-software untuk komputer klien: sistem operasi, browser Internet untuk mengakses server, software aplikasi dan authoring untuk mengembangkan materi pembelajaran oleh guru dan mengerjakan tugas-tugas oleh siswa
(5) infrastruktur jaringan LAN dan Internet yang diperlukan. Dalam hal ini diperlukan adanya koneksi LAN dan Internet yang memungkinkan akses server dari luar.

PETA KONSEP



Definisi Ikatan Kimia : Adalah ikatan yang terjadi antar atom atau antar molekul dengan cara sebagai berikut :
a)    atom yang 1 melepaskan elektron, sedangkan atom yang lain menerima elektron (serah terima elektron)
b)   penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari masing-masing atom yang berikatan
c)    penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan

1.             Ikatan Ion ( elektrovalen )
Terjadi jika atom unsur yang memiliki energi ionisasi kecil/rendah melepaskan elektron valensinya (membentuk kation) dan atom unsur lain yang mempunyai afinitas elektron besar/tinggi menangkap/menerima elektron tersebut (membentuk anion).
Kedua ion tersebut kemudian saling berikatan dengan gaya elektrostatis (sesuai hukum Coulomb). Unsur yang cenderung melepaskan elektron adalah unsur logam sedangkan unsur yangcenderung menerima elektron adalah unsur non logam.

Senyawa yang mempunyai ikatan ion antara lain :
a)       Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan halogen (VIIA)
Contoh : NaF, KI, CsF
b)       Golongan alkali (IA) [kecuali atom H] dengan golongan oksigen (VIA)
Contoh : Na2S, Rb2S,Na2O
c)        Golongan alkali tanah (IIA) dengan golongan oksigen (VIA)
Contoh : CaO, BaO, MgS

Sifat umum senyawa ionik :
1)       Titik didih dan titik lelehnya tinggi
2)       Keras, tetapi mudah patah
3)       Penghantar panas yang baik
4)       Lelehan maupun larutannya dapat menghantarkan listrik (elektrolit)
5)       Larut dalam air
6)       Tidak larut dalam pelarut/senyawa organik (misal : alkohol, eter, benzena)

2.             Ikatan Kovalen
Adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron secara bersama oleh 2 atom yang berikatan. Ikatan kovalen terjadi akibat ketidakmampuan salah 1 atom yang akan berikatan untukmelepaskan elektron (terjadi pada atom-atom non logam).
Ikatan kovalen terbentuk dari atom-atom unsur yang memiliki afinitas elektron tinggi sertabeda keelektronegatifannya lebih kecil dibandingkan ikatan ion.
Atom non logam cenderung untuk menerima elektron sehingga jika tiap-tiap atom non logam berikatan maka ikatan yang terbentuk dapat dilakukan dengan caramempersekutukan elektronnya dan akhirnya terbentuk pasangan elektron yang dipakai secara bersama.
Pembentukan ikatan kovalen dengan cara pemakaian bersama pasangan elektron tersebut harus sesuai dengan konfigurasi elektron pada unsur gas mulia yaitu 8 elektron (kecuali He berjumlah 2 elektron).
           
Ada 3 jenis ikatan kovalen :
a.    Ikatan Kovalen Tunggal
b.    Ikatan Kovalen Rangkap Dua
Contoh : Ikatan yang terjadi antara atom O dengan O membentuk molekul O2
c.     Ikatan Kovalen Rangkap Tiga
Contoh 1: Ikatan yang terjadi antara atom N dengan N membentuk molekul N2
d.   Ikatan Kovalen Koordinasi / Koordinat / Dativ / Semipolar
Adalah ikatan yang terbentuk dengan cara penggunaan bersama pasangan elektron yang berasal dari salah 1 atom yang berikatan [Pasangan Elektron Bebas (PEB)], sedangkan atom yang lain hanya menerima pasangan elektron yang digunakan bersama.
Pasangan elektron ikatan (PEI) yang menyatakan ikatan dativ digambarkan dengan tanda anak panah kecil yang arahnya dari atom donor menuju akseptor pasangan elektron.

3.             Ikatan Logam
Adalah ikatan yang terbentuk akibat adanya gaya tarik-menarik yang terjadi antara muatan positif dari ion-ion logam dengan muatan negatif dari elektron-elektron yang bebas bergerak.
Atom-atom logam dapat diibaratkan seperti bola pingpong yang terjejal rapat 1 sama lain.
Atom logam mempunyai sedikit elektron valensi, sehingga sangat mudah untuk dilepaskan dan membentuk ion positif. Maka dari itu kulit terluar atom logam relatif longgar (terdapat banyak tempat kosong) sehingga elektron dapat berpindah dari 1 atom ke atom lain.
Mobilitas elektron dalam logam sedemikian bebas, sehingga elektron valensi logam mengalami delokalisasi yaitu suatu keadaan dimana elektron valensi tersebut tidak tetap posisinya pada 1 atom, tetapi senantiasa berpindah-pindah dari 1 atom ke atom lain.
Suatu ikatan kovalen disebut polar, jika Pasangan Elektron Ikatan (PEI) tertarik lebih kuat ke salah 1 atom.
Contoh 1 :
Molekul HCl

Meskipun atom H dan Cl sama-sama menarik pasangan elektron, tetapi keelektronegatifan Cl lebih besar daripada atom H.
Akibatnya atom Cl menarik pasangan elektron ikatan (PEI) lebih kuat daripada atom H sehingga letak PEI lebih dekat ke arah Cl (akibatnya terjadi semacam kutub dalam molekul HCl).
Jadi, kepolaran suatu ikatan kovalen disebabkan oleh adanya perbedaan keelektronegatifanantara atom-atom yang berikatan.
Sebaliknya, suatu ikatan kovalen dikatakan non polar (tidak berkutub), jika PEI tertarik sama kuat ke semua atom.

Perbedaan antara Senyawa Ion dengan Senyawa Kovalen

No
Sifat
Senyawa Ion
Senyawa Kovalen
1
Titik didih
Tinggi
Rendah
2
Titik leleh
Tinggi
Rendah
3
Wujud
Padat pada suhu kamar
Padat,cair,gas pada suhu kamar
4
Daya hantar listrik
Padat = isolator
Padat = isolator
Lelehan = konduktor
Lelehan = isolator
Larutan = konduktor
Larutan = ada yang konduktor
5
Kelarutan dalam air
Umumnya larut
Umumnya tidak larut
6
Kelarutan dalam trikloroetana (CHCl3)
Tidak larut
Larut

Selasa, 21 Februari 2017

TUGAS TERSTRUKTUR 1

1)   Menurut Cognitife Theory of Multimedia Learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia?
Jawab :

Teori kognitif pembelajaran multimedia (cognitive theory of multimedia learning/CTML) berpusat pada ide bahwa peserta didik mencoba untuk membangun hubungan yang berarti antara kata-kata dan gambar dan bahwa mereka akan belajar lebih dalam daripada mereka belajar dengan kata-kata dan gambar secara terpisah (Mayer, 2009). Berdasarkan CTML, salah satu tujuan utama dari pembelajaran multimedia adalah untuk mendorong pebelajar membangun a coherent mental representation dari materi yang disajikan. Tugas pebelajar adalah membuat materi yang disajikan masuk akal secara aktif, akhirnya membangun pengetahuan baru. Teori belajar dalam pembelajaran multimedia didasarkan pada gagasan bahwa belajar bermakna mensyaratkan siswa terlibat dalam lima proses kognitif aktif yaitu: 1) memilih kata-kata, 2) memilih gambar, 3) mengorganisasikan kata-kata, 4) mengorganisasikan gambar, dan 5) mengintegrasikan kata-kata dan gambar. Belajar bermakna terjadi ketika siswa secara mental membangun representasi pengetahuan secara koheren.
      Mayer (2001) mengemukakan tiga asumsi yang Teori Kognitif Multimedia Learning (CTML) dibangun. Pertama, ada asumsi bahwa manusia memiliki sistem pengolahan untuk bahan pendengaran dan sistem lain untuk bahan visual. Presentasi multimedia menggunakan kedua sistem, memanfaatkan potensi belajar penuh seseorang. Asumsi kedua adalah bahwa saluran ini memiliki kapasitas terbatas. Karena keterbatasan ini, keputusan perlu dibuat "tentang apa yang potongan informasi yang masuk untuk memperhatikan" (Mayer, 2001, hal.50). Asumsi terakhir adalah bahwa belajar aktif melibatkan memilih, mengorganisir, dan mengintegrasikan materi yang relevan dengan pengetahuan yang ada. Teori kognitif multimedia pembelajaran menawarkan tiga theory-based assumptionstentang bagaimana seseorang belajar dari kata-kata dan gambar .

1. Dual Channel Assumption
Sistem kognitif manusia terdiri dari dua saluran berbeda untuk mewakili  dan memanipulasi  pengetahuan, yaitu 1) visual-pictorial channel dan auditory-verbal channel(Baddeley,1986, 1999; Paivio, 1986). Gambar memasuki sistem kognitif melalui mata dan dapat diproses sebagai pictorial representations pada visual-pictorial channel. Kata-kata lisan memasuki sistem kognitif melalui telinga dan dapat diproses sebagai verbal representations pada auditory-verbal channel. Manusia menggunakan kanal pemrosesan informasi terpisah yakni untuk informasi yang disajikan secara visual dan informasi yang disajikan secara auditif. Pemrosesan informasi terjadi dalam tiga tahap. Pertama, informasi memasuki sistem pemrosesan informasi baik melalui kanal visual maupun melalui kanal auditif. Kedua, informasi-informasi ini kemudian diproses secara terpisah tetapi bersamaan di dalam memori kerja (working memory), di mana isyarat tutur (speech) yang bersifat auditif maupun gambar (termasuk di dalamnya video) dipilih dan ditata. Kemudian, tahap ketiga, informasi dari kedua  kanal tersebut disatukan dan dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam memori jangka panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh masing-masing pembelajar. Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki oleh masing-masing pembelajar tidaklah sama.


2. Limited Capacity Assumption. 
Setiap saluran pada sistem kognitif manusia memiliki keterbatasan kapasitas untuk memegang dan memanipulasi pengetahuan (Baddeley, 1986, 1999; Sweller, 1999). Ketika banyak gambar (atau bahan-bahan visual lainya) disajikan pada saat bersamaan, saluran visual-pictorial bisa menjadi overload. Ketika banyak kata-kata lisan (dan soundslainnya) disajikan pada saat bersamaan, saluran auditory-verbal bisa menjadi overload. Adanya keterbatasan kemampuan manusia memproses informasi dalam setiap kanal pada satu waktu. Dalam satu sesi presentasi, audiens hanya bisa menyimpan beberapa informasi visual (gambar, video, diagram, dsb) dan beberapa informasi tutur (auditif). Asumsi inilah yang mendasari riset dan teori yang disebut teori beban kognitif (cognitive load theory). Meskipun beban maksimal tiap individu bervariasi, beberapa penelitian menunjukkan bahawa rata-rata manusia hanya mampu menyimpan 5-7 ‘potongan’ informasi saja pada satu saat


3. Active Processing Assumption. 
Pembelajaran bermakna (meaningful learning) terjadi ketika pebelajar terlibat dalam pengolahan aktif pada saluran, termasuk memilih kata-kata dan gambar yang relevan, mengorganisasikan kata-kata dan gambar ke dalam model pictorial dan verbal yang koheren, dan mengintegrasikan kata-kata dan gambar satu sama lain dengan pengetahuan awal (prior knowledge) yang sesuai (Mayer, 1999, 2001; Wittrock, 1989). Proses pembelajaran aktif tersebut lebih memungkinkan terjadi ketika corresponding verbal and pictorial representations berada pada memori kerja pada waktu yang sama.

        CTML menerima model bahwa terdapat tiga struktur penyimpanan yang dikenal sebagai sensory memory, working memory, dan long-term memory. Sweller (2005 dalam Sorden, 2005) mendefinisikan sensory memory sebagai struktur kognitif yang memungkinkan kita untuk melihat informasi baru, working memory sebagai struktur kognitif dimana kita secara sadar memproses informasi, dan long-term memory sebagai stuktur kognitif yang menyimpan basis pengetahuan kita. Mayer (2005a dalam Sorden, 2005) menyatakan bahwa sensory memory memiliki 1) visual sensory memory yang secara singkat memegang gambar-gambar dan printed text sebagai gambar visual (visual images); dan 2) auditory memory yang secara singkat memegang kata-kata lisan (spoken words) dan suara (sounds) sebagai auditory images.
       Schnotz (2005 dalam Sorden, 2005) mengacu kepada sensory memory sebagaisensory registers atau sensory channels menunjukkan bahwa meskipun kita cenderung untuk melihat dua saluran sensoris yaitu mata untuk memori kerja visual dan telinga untuk memori kerja auditory, bahwa adalah mungkin ada saluran sensori lainnya untuk memperkenalkan informasi ke memori kerja seperti “membaca” dengan jari melalui huruf braile atau orang tuli dapat “mendengar” dengan membaca bibir. Memori kerja hadir untuk menseleksi informasi dari sensory memory untuk pengolahan dan pengintegrasian.Sensory memory memegang salinan sensori dari apa yang disajikan kurang dari 0.25 detik, sementara itu  memori kerja memegang salinan sensori yang diproses dari apa yang disajikan umumnya kurang dari tiga puluh detik dan dapat memproses hanya beberapa potong bahan pada satu waktu (Mayer 2010a dalam Sorden, 2005). Long-term memory memegang seluruh penyimpanan dari pengetahuan seseorang untuk waktu yang lama.
Dalam pembelajaran kimia kita dapat mengabil contoh : yakni dengan menggunakan projector pada saat menjelaskan materi tentang senyawa aromatic dengan aplikaasi tertentu, kemudian pendidikan menjelaskan secara verbal, maka terjadilah proses penerimaan yang bai oleh pesert didik, baik visual maupun verbal .
contoh media yang relevan dalam pembelajaran kimia adalah powerpoint ataupun video pembelajaran. dimana dalam menentukan media apa yamg tepat juga disesuaikan dengan materi yang hendak disampaikan. diperhatikan juga karakteristik semua peserta didik dan ketersediaan alat, bahan dan teknologi yang mendukung. misalnya dalam materi struktur atom, media yang dapat digunakan adalah penampilan power point gambar struktur atom dimana dalam menerapkannya diperhatikan juga mengenai prinsip dasar multimedia dan teori pemrosesan informasi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

Mengikuti asumsi Mayer (Mayer R. E., 1989), Gambar 1 berikut ini menunjukkan model bagaimana manusia belajar dalam lingkungan pembelajaran multimedia. Model belajarini mengasumsikan manusia memiliki dua kanal menuju memori kerja. Satu kanal berasaldari indera pendengaran dan kanal yang lain berasal dari indera penglihatan. Bahan ajarmultimedia mungkin berisi gambar dan kata-kata (baik dalam bentuk tekstual maupuntuturan). Gambar dan narasi tekstual (printed word) masuk menuju sistem pemroseskognitif pembelajar melalui indera penglihatan, sedangkan narasi tuturan (spoken words)masuk melalui indera pendengaran. Pembelajar tidak menerima semua informasi yang disajikan melainkan memilih dan menyaring sesuai minat dan kepentingannya. Informasi-informasi yang terpilih lebih lanjut diproses dalam memori kerja pembelajar. Memori kerjaini memiliki keterbatasan dalam hal menyimpan dan memanipulasi informasi di setiapkanal. Dalam memori kerja ini, pembelajar secara mental mengorganisasikan gambar-gambar terpilih kedalam model piktorial dan beberapa tuturan ke dalam model verbal.Kedua jenis informasi ini dipadukan dengan informasi yang telah dimiliki pembelajar darimemori jangka panjang yang merupakan gudang penyimpanan pengetahuan pembelajar.



Daftar Rujukan
Mayer R.E. & Moreno, R.  2002. Animation as an aid to multimedia learning. Educational Psychology Review. 14(1).87-99


2)   Jelaskan bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran  kimia.
Jawab:

Theory Dual coding yang dikemukakan alan paivio ( paivio, 1971-2006 ) menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua chenel , yaitu chenel verbal seperti teks dan suara, dan chenel visual ( non verbal image) seperti diagram , gambar, dan animasi. Kedua chenel ini dapat berfungdi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan ( sadoski,paivio,goeks 1991). Channel verbal memproses informasi secara berurutan sedangakan chenel non verbal memproses informasi secara bersamaan ( singkron/paralel). Contohnya informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata – kata atau verbal dan ilustrasi yang relevan memiliki kecendrungan lebih mudah diperlajari  dan dipahami dari pada infooormasi yang menggnakan teks saja, suara saja, perpaduan tek dan suara saja , atau ilustrasi saja. Channel verbal memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Teori dual coding mengidentifikasi tiga cara pemrosesan informasi, yaitu:
a.    pengaktifan langsung representasi verbal atau piktorial,
b.    pengaktifan representasi verbal oleh piktorial atau sebaliknya
c.    pengaktifan secara bersama-sama representasi verbal dan piktorial.

Theory dual coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari chenel verbal dan non verbal (najar,1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua chenel pemprosesan informasi (verbal Dan non verbal ) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama , yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
Pada proses belajar dengan multimedia, pembelajar mengalami 3 (tiga) proses kognitif penting. Proses kognitif pertama adalah proses memilah yang diterapkan terhadapinformasi verbal atau informasi visual, tergantung jenis informasi yang diterima olehindera pembelajar. Proses kognitif kedua adalah mengorganisasikan informasi ke dalammodel verbal (untuk informasi auditif) atau model visual (untuk informasi visual). Prosesketiga adalah proses pemaduan atau pengintegrasian, yang terjadi apabila pembelajarmembangun jalinan antara model verbal dan model visual atas informasi yang diterima.Informasi visual yang berupa teks, misalnya, akan dijalin dengan model verbal yangumumnya berupa ucapan. Demikian juga, obyek verbal atau auditif yang berupa deskripsimengenai obyek visual, akan dijalin dengan model visual yang dimiliki oleh pembelajar.Terkait dengan fakta-fakta mengenai proses kognitif yang terjadi pada pembelajar danstruktur kognitif yang diasumsikan ada pada pembelajar, dapat digeneralisasi prinsip- prinsip perancangan bahan ajar multimedia yang sesuai.
Daftar Rujukan

Beacham, N.A., Elliott, A.C, Alty, J.L., Al-Sharrah, A. Media Combinations and Learning Styles: A Dual Coding Approach. Association for the Advancement of Computing in Education (AACE), 2002.