PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
Pengertian e-learning pada umumnya
terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut
Gilbert & Jones adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu
media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast,
audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga
diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik
(LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama
proses pembelajaran. Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai
suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet,
intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan
CD-ROM.
E-learning efektif,
seperti halnya pembelajaran efektif secara umum harus memenuhi kriteria:
●
memacu peserta belajar ke dalam proses belajar,
●
menimbulkan keterampilan belajar mandiri,
●
mengembangkan keterampilan dan pengetahuan peserta belajar,
●
memotivasi belajar lebih lanjut.
Belajar efektif dapat terjadi apabila
kesempatan belajar melibatkan:
●
sumber daya yang tepat,
●
modus (atau gabungan modus) deliveri yang tepat,
●
konteks yang tepat,
●
peserta belajar yang tepat,
●
level dukungan yang tepat.
Pembelajaran yang
hanya dilakukan di kelas memiliki beberapa kelemahan, di antaranya sumber
belajar terbatas, pembelajaran kurang efektif, dan tidak mampu mengakomodasi
gaya dan kecepatan belajar siswa. Gaya belajar adalah suatu cara atau strategi
seseorang dalam mengelola informasi. Kelemahan tersebut dapat diatasi dengan
memanfaatkan perkembangan teknologi yang semakin maju
dengan mengembangkan media pembelajaran yang dapat mengakomodasi
perbedaan gaya dan kecepatan belajar siswa. terlebih lagi dalam pembelajaran
kimia sangat diperlukan media agar materi kimia yang cenderung susah
dipahami oleh siswa dapat terbantu dengan adanya media
yang mendukung. Oleh karena itu diperlukan sebuah media yang mampu
memberikan nuansa baru dalam pembelajaran, memberikan beragam sumber belajar
yang dapat diakses setiap saat oleh siswa, sehingga mampu mengakomodasi gaya
dan kecepatan belajar siswa.
Media pembelajaran
berbasis learning management system menjadi salah satu solusi yang bisa dipakai
dalam proses pembelajaran. Beberapa alasan menggunakan media pembelajaran ini
adalah
(a) terjadi peningkatan efektivitas pembelajaran dan prestasi akademik
siswa,
(b) menambah kenyamanan,
(c) menarik lebih banyak perhatian siswa kepada materi yang
disampaikan dalam pembelajaran, (d) dapat diterapkan dengan berbagai tingkat
dan model pembelajaran, dan
(e) dapat menambah waktu pembelajaran dengan memanfaatkan
teknologi dunia maya.
Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat berpotensi un-tuk
mendukung revolusi pembelajaran, dengan enam dimensi kunci :
(1) Konektivitas: akses
informasi secara global;
(2) Fleksibilitas:
belajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja;
(3) Interaktivitas: interaksi antara pelajar dan
materi pelajaran serta lingkungan belajar maupun sumber belajar dapat dilakukan
seketika dan secara langsung;
(4) Kolaborasi:
penggunaan fasilitas komunikasi
dan diskusi online
mendukung pembelajaran
kolaboratif di luar kelas;
(5) Memperluas kesempatan: materi e-learning
dapat memperkaya dan memperluas materi pembelajaran tatap muka; dan
(6) Motivasi: pemakaian
multimedia dapat membuat suasana belajar menyenangkan.
Pembelajaran kimia
pada umumnya hanya terbatas pada penggunaan bahan ajar berupa buku teks dan LKS
sehingga siswa kurang dapat memahami konsep mikroskopik. Lemahnya interaksi
antara guru dengan siswa serta kecepatan belajar siswa yang seringkali dianggap
sama juga merupakan kendala dalam pembelajaran kimia, maka dari itu usaha-usaha peningkatan
kualitas pembelajaran kimia
saat ini terus
dilakukan, termasuk peningkatan
kualitas bahan ajar dan diversifikasi media pembelajaran. Peningkatan kualitas bahan ajar
dan diversifikasi media
pembelajaran diharapkan mampu
mengakomodir kebutuhan siswa dalam menghadapi era teknologi informasi
dan komunikasi dengan tidak meninggalkan faktor pemahaman dan keterampilan
siswa dalam proses pembelajaran kimia.
Teknologi informasi
dan komunikasi seharusnya menjadi alat sehari-hari dalam kegiatan belajar dan
membelajarkan. Salah satu penggunaan teknologi informasi dan komunikasi adalah
pemanfaatan internet dalam proses pembelajaran yang disebut dengan e-learning.
E-learning dapat diimplemantasikan dengan menggunakan alternatif tools yang
disebut dengan LMS (Learning Management System).
Media pembelajaran
berbasis LMS sangat berguna dalam menyediakan lingkungan/ suasana belajar yang
lengkap bagi siswa, karena penuh dengan penyediaan dokumen yang terkait modul
dalam format elektronik, kesempatan untuk saling belajar bersama-sama,dan
kesempatan untuk menyerahkan semua penilaian sumatif secara elektronik. Alasan
lain yang mendukung perspektif tersebut adalah bahwa setiap siswa memiliki
akses ke semua konten pembelajaran, memiliki fleksibilitas waktu dan momen yang
paling cocok untuk kebutuhan siswa dalam belajar, dapat belajar dengan
kemampuan kecepatan belajar masing-masing, dan berpartisipasi dalam kesempatan
belajar yang interaktif.
E-learning pada
pembelajaran di sekolah-sekolah khususnya pembelajaran sains telah diterapkan
sejak beberapa tahun yang lalu. Selain untuk tujuan pembelajaran,
penerapan e-learning juga sebagai sarana untuk mengenalkan teknologi
informasi kepada peserta didik. Namun sampai sekarang pemanfaatannya masih
kurang optimal. Bahkan sebagian orang beranggapan bahwa penerapan e-learning hanya
sekedar mengikuti trend saja tanpa menghiraukan apakah tujuan
pembelajaran dapat tercapai atau tidak. Oleh karena itu, penelitian atau kajian
pustaka tentang implementasi e-learning khususnya pada pembelajaran
sains perlu terus dilakukan.
Sistem e-learning
terdiri atas beberapa komponen, yakni:
1.
komputer
server yang dilengkapi dengan server Web dan sosftware LMS (learning management
system) dan software pendukung lain,
2.
infrastruktur
jaringan yang menghubungkan komputer klien ke server,
3.
komputer
klien tempat mahasiswa dan dosen mengakses kelas online, dan
4.
bahan-bahan
ajar yang disiapkan oleh dosen dan dimasukkan ke dalam kelas online.
Sesuai dengan model di
atas, komponen-komponen yang diperlukan untuk membangun sistem e-learning
meliputi:
(1) hardware server dengan
spesifikasi yang memadai
(2) software untuk server: sistem
operasi, server Web, dan server e-learning (LMS, learning management system),
serta software-software pendukung lainnya (misalnya PHP, MySQL)
(3) komputer klien dengan spesifikasi
dan cacah yang memadai untuk akses ke sistem e-learning secara online
(4) software-software untuk komputer
klien: sistem operasi, browser Internet untuk mengakses server, software
aplikasi dan authoring untuk mengembangkan materi pembelajaran oleh guru dan
mengerjakan tugas-tugas oleh siswa
(5) infrastruktur jaringan LAN dan
Internet yang diperlukan. Dalam hal ini diperlukan adanya koneksi LAN dan
Internet yang memungkinkan akses server dari luar.




