TUGAS
TERSTRUKTUR 1
1) Menurut
Cognitife Theory of Multimedia Learning bahwa ada tiga asumsi utama yang
dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga
asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing masing media yang relevan untuk
pembelajaran kimia?
Jawab :
Teori kognitif pembelajaran multimedia (cognitive theory of
multimedia learning/CTML) berpusat pada ide bahwa peserta didik mencoba untuk
membangun hubungan yang berarti antara kata-kata dan gambar dan bahwa mereka
akan belajar lebih dalam daripada mereka belajar dengan kata-kata dan gambar
secara terpisah (Mayer, 2009). Berdasarkan CTML, salah satu tujuan utama dari
pembelajaran multimedia adalah untuk mendorong pebelajar membangun a
coherent mental representation dari materi yang disajikan. Tugas pebelajar
adalah membuat materi yang disajikan masuk akal secara aktif, akhirnya
membangun pengetahuan baru. Teori
belajar dalam pembelajaran multimedia didasarkan pada gagasan bahwa belajar
bermakna mensyaratkan siswa terlibat dalam lima proses kognitif aktif yaitu: 1)
memilih kata-kata, 2) memilih gambar, 3) mengorganisasikan kata-kata, 4)
mengorganisasikan gambar, dan 5) mengintegrasikan kata-kata dan gambar. Belajar
bermakna terjadi ketika siswa secara mental membangun representasi pengetahuan
secara koheren.
Mayer (2001) mengemukakan tiga
asumsi yang Teori Kognitif Multimedia Learning (CTML) dibangun. Pertama, ada
asumsi bahwa manusia memiliki sistem pengolahan untuk bahan pendengaran dan
sistem lain untuk bahan visual. Presentasi multimedia menggunakan kedua sistem,
memanfaatkan potensi belajar penuh seseorang. Asumsi kedua adalah bahwa saluran
ini memiliki kapasitas terbatas. Karena keterbatasan ini, keputusan perlu
dibuat "tentang apa yang potongan informasi yang masuk untuk
memperhatikan" (Mayer, 2001, hal.50). Asumsi terakhir adalah bahwa belajar
aktif melibatkan memilih, mengorganisir, dan mengintegrasikan materi yang relevan
dengan pengetahuan yang ada. Teori kognitif multimedia
pembelajaran menawarkan tiga theory-based assumptionstentang bagaimana
seseorang belajar dari kata-kata dan gambar .
1.
Dual Channel Assumption
Sistem kognitif manusia terdiri dari dua saluran berbeda
untuk mewakili dan memanipulasi pengetahuan, yaitu
1) visual-pictorial channel dan auditory-verbal
channel(Baddeley,1986, 1999; Paivio, 1986). Gambar memasuki sistem kognitif
melalui mata dan dapat diproses sebagai pictorial representations pada visual-pictorial
channel. Kata-kata lisan memasuki sistem kognitif melalui telinga dan dapat
diproses sebagai verbal representations pada auditory-verbal
channel. Manusia menggunakan
kanal pemrosesan informasi terpisah yakni untuk informasi yang disajikan secara
visual dan informasi yang disajikan secara auditif. Pemrosesan informasi
terjadi dalam tiga tahap. Pertama, informasi memasuki sistem pemrosesan
informasi baik melalui kanal visual maupun melalui kanal auditif. Kedua,
informasi-informasi ini kemudian diproses secara terpisah tetapi bersamaan di
dalam memori kerja (working memory), di mana isyarat tutur (speech) yang
bersifat auditif maupun gambar (termasuk di dalamnya video) dipilih dan ditata.
Kemudian, tahap ketiga, informasi dari kedua kanal tersebut disatukan dan
dikaitkan dengan informasi lain yang telah tersimpan di dalam memori jangka
panjang. Tahap ketiga inilah yang bertanggungjawab mengenai bagaimana informasi
yang sama bisa diinterpretasi secara berbeda oleh masing-masing pembelajar.
Penyebabnya adalah pengalaman belajar yang dimiliki oleh masing-masing
pembelajar tidaklah sama.
2.
Limited Capacity Assumption.
Setiap saluran pada sistem kognitif manusia memiliki
keterbatasan kapasitas untuk memegang dan memanipulasi pengetahuan (Baddeley,
1986, 1999; Sweller, 1999). Ketika banyak gambar (atau bahan-bahan visual
lainya) disajikan pada saat bersamaan, saluran visual-pictorial bisa
menjadi overload. Ketika banyak kata-kata lisan (dan soundslainnya)
disajikan pada saat bersamaan, saluran auditory-verbal bisa
menjadi overload. Adanya
keterbatasan kemampuan manusia memproses informasi dalam setiap kanal pada satu
waktu. Dalam satu sesi presentasi, audiens hanya bisa menyimpan beberapa
informasi visual (gambar, video, diagram, dsb) dan beberapa informasi tutur
(auditif). Asumsi inilah yang mendasari riset dan teori yang disebut teori
beban kognitif (cognitive load theory). Meskipun beban maksimal tiap individu
bervariasi, beberapa penelitian menunjukkan bahawa rata-rata manusia hanya
mampu menyimpan 5-7 ‘potongan’ informasi saja pada satu saat
3.
Active Processing Assumption.
Pembelajaran bermakna (meaningful learning) terjadi ketika
pebelajar terlibat dalam pengolahan aktif pada saluran, termasuk memilih
kata-kata dan gambar yang relevan, mengorganisasikan kata-kata dan gambar ke
dalam model pictorial dan verbal yang koheren, dan
mengintegrasikan kata-kata dan gambar satu sama lain dengan pengetahuan awal
(prior knowledge) yang sesuai (Mayer, 1999, 2001; Wittrock, 1989). Proses
pembelajaran aktif tersebut lebih memungkinkan terjadi
ketika corresponding verbal and pictorial representations berada pada
memori kerja pada waktu yang sama.
CTML menerima model bahwa terdapat tiga struktur penyimpanan yang dikenal
sebagai sensory memory, working memory, dan long-term memory.
Sweller (2005 dalam Sorden, 2005) mendefinisikan sensory
memory sebagai struktur kognitif yang memungkinkan kita untuk melihat
informasi baru, working memory sebagai struktur kognitif dimana kita
secara sadar memproses informasi, dan long-term memory sebagai
stuktur kognitif yang menyimpan basis pengetahuan kita. Mayer (2005a dalam
Sorden, 2005) menyatakan bahwa sensory memory memiliki 1) visual
sensory memory yang secara singkat memegang gambar-gambar dan printed
text sebagai gambar visual (visual images); dan 2) auditory
memory yang secara singkat memegang kata-kata lisan (spoken words) dan
suara (sounds) sebagai auditory images.
Schnotz (2005 dalam Sorden, 2005) mengacu kepada sensory
memory sebagaisensory registers atau sensory
channels menunjukkan bahwa meskipun kita cenderung untuk melihat dua saluran
sensoris yaitu mata untuk memori kerja visual dan telinga untuk memori kerja
auditory, bahwa adalah mungkin ada saluran sensori lainnya untuk memperkenalkan
informasi ke memori kerja seperti “membaca” dengan jari melalui huruf braile
atau orang tuli dapat “mendengar” dengan membaca bibir. Memori kerja hadir
untuk menseleksi informasi dari sensory memory untuk pengolahan dan
pengintegrasian.Sensory memory memegang salinan sensori dari apa yang
disajikan kurang dari 0.25 detik, sementara itu memori kerja memegang
salinan sensori yang diproses dari apa yang disajikan umumnya kurang dari tiga
puluh detik dan dapat memproses hanya beberapa potong bahan pada satu waktu
(Mayer 2010a dalam Sorden, 2005). Long-term memory memegang seluruh
penyimpanan dari pengetahuan seseorang untuk waktu yang lama.
Dalam pembelajaran kimia kita dapat mengabil
contoh : yakni dengan menggunakan projector pada saat menjelaskan materi
tentang senyawa aromatic dengan aplikaasi tertentu, kemudian pendidikan
menjelaskan secara verbal, maka terjadilah proses penerimaan yang bai oleh
pesert didik, baik visual maupun verbal .
contoh media yang relevan dalam pembelajaran kimia adalah
powerpoint ataupun video pembelajaran. dimana dalam menentukan media apa yamg
tepat juga disesuaikan dengan materi yang hendak disampaikan. diperhatikan juga
karakteristik semua peserta didik dan ketersediaan alat, bahan dan teknologi
yang mendukung. misalnya dalam materi struktur atom, media yang dapat digunakan
adalah penampilan power point gambar struktur atom dimana dalam menerapkannya
diperhatikan juga mengenai prinsip dasar multimedia dan teori pemrosesan
informasi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Mengikuti asumsi Mayer (Mayer R. E., 1989), Gambar 1 berikut ini menunjukkan model bagaimana manusia belajar dalam lingkungan pembelajaran multimedia. Model belajarini mengasumsikan manusia memiliki dua kanal menuju memori kerja. Satu kanal berasaldari indera pendengaran dan kanal yang lain berasal dari indera penglihatan. Bahan ajarmultimedia mungkin berisi gambar dan kata-kata (baik dalam bentuk tekstual maupuntuturan). Gambar dan narasi tekstual (printed word) masuk menuju sistem pemroseskognitif pembelajar melalui indera penglihatan, sedangkan narasi tuturan (spoken words)masuk melalui indera pendengaran. Pembelajar tidak menerima semua informasi yang disajikan melainkan memilih dan menyaring sesuai minat dan kepentingannya. Informasi-informasi yang terpilih lebih lanjut diproses dalam memori kerja pembelajar. Memori kerjaini memiliki keterbatasan dalam hal menyimpan dan memanipulasi informasi di setiapkanal. Dalam memori kerja ini, pembelajar secara mental mengorganisasikan gambar-gambar terpilih kedalam model piktorial dan beberapa tuturan ke dalam model verbal.Kedua jenis informasi ini dipadukan dengan informasi yang telah dimiliki pembelajar darimemori jangka panjang yang merupakan gudang penyimpanan pengetahuan pembelajar.
Daftar
Rujukan
Mayer R.E. & Moreno,
R. 2002. Animation as an aid to multimedia learning. Educational Psychology Review. 14(1).87-99
2) Jelaskan bagaimana teori dual coding
dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran kimia.
Jawab:
Theory Dual coding yang dikemukakan alan
paivio ( paivio, 1971-2006 ) menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang
diproses melalui salah satu dari dua chenel , yaitu chenel verbal seperti teks
dan suara, dan chenel visual ( non verbal image) seperti diagram , gambar, dan
animasi. Kedua chenel ini dapat berfungdi baik secara independen, secara
paralel, atau juga secara terpadu bersamaan ( sadoski,paivio,goeks
1991). Channel verbal memproses informasi secara berurutan sedangakan
chenel non verbal memproses informasi secara bersamaan ( singkron/paralel).
Contohnya informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata – kata atau verbal
dan ilustrasi yang relevan memiliki kecendrungan lebih mudah diperlajari dan
dipahami dari pada infooormasi yang menggnakan teks saja, suara saja, perpaduan
tek dan suara saja , atau ilustrasi saja. Channel verbal memroses
informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi
secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Teori dual coding mengidentifikasi tiga cara pemrosesan
informasi, yaitu:
a. pengaktifan langsung representasi
verbal atau piktorial,
b. pengaktifan representasi verbal oleh
piktorial atau sebaliknya
c. pengaktifan secara bersama-sama
representasi verbal dan piktorial.
Theory dual coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan
belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang
tepat dari chenel verbal dan non verbal (najar,1995). Sejalan dengan pernyataan
tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan
merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua chenel pemprosesan informasi
(verbal Dan non verbal ) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama
, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh
pembelajar.
Pada
proses belajar dengan multimedia, pembelajar mengalami 3 (tiga) proses
kognitif penting. Proses kognitif pertama adalah proses memilah yang diterapkan terhadapinformasi
verbal atau informasi visual, tergantung jenis informasi yang diterima
olehindera pembelajar. Proses kognitif kedua adalah mengorganisasikan informasi
ke dalammodel verbal (untuk informasi auditif) atau model visual (untuk
informasi visual). Prosesketiga adalah proses pemaduan atau
pengintegrasian, yang terjadi apabila pembelajarmembangun jalinan antara model
verbal dan model visual atas informasi yang diterima.Informasi visual yang
berupa teks, misalnya, akan dijalin dengan model verbal yangumumnya berupa
ucapan. Demikian juga, obyek verbal atau auditif yang berupa
deskripsimengenai obyek visual, akan dijalin dengan model visual yang
dimiliki oleh pembelajar.Terkait dengan fakta-fakta mengenai proses
kognitif yang terjadi pada pembelajar danstruktur kognitif yang diasumsikan ada
pada pembelajar, dapat digeneralisasi prinsip- prinsip perancangan bahan
ajar multimedia yang sesuai.
Daftar
Rujukan
Beacham, N.A., Elliott, A.C, Alty, J.L., Al-Sharrah, A. Media
Combinations and Learning Styles: A Dual Coding Approach. Association for the Advancement of Computing
in Education (AACE), 2002.


assalamualaikum, :)
BalasHapusdisini saya akan menambahkan jawaban pada pertanyaan no . 2 mengenai teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu multimedia pembelajaran kimia. dimana Mayer (2003) mengintegrasikan teori dual coding ini ke dalam model SOI (Selecting Organizing Integrating) dalam pemrosesan informasi. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain atau menyiapkan sesuatu multimedia pembelajaran. Aktivitas berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection) terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen (lihat Gambar).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan. Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja
Assalamualaikum. Saya akan menambahkan sedikit materi pada postingan anda kali ini. Pada teori kognitif pembelajaran multimedia (The Cognitive Theory of Multimedia Learning) terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pedoman oleh para perancang multimedia dan e-learning saat membuat pembelajaran atau presentasi yang informasinya terdiri dari teks, grafik (gambar), video dan audio untuk mengoptimalisasikan pembelajaran. Tiap-tiap prinsip telah dilakukan penelitian (research) dengan menggunakan berbagai macam kondisi pembelejaran multimedia untuk menentukan hasil mana yang terbaik untuk pembelajaran para siswa. (Clark & Mayer, 2011).
BalasHapusSekian. Terimakasih
saya ingin memberikan masukan pada soal yang pertama, pada soal dikatakan bahwa setiap visual harus disertakan dengan contoh, dan yang anda jawab hanya ada dua contoh, sedangkan macam asumsinya ada tiga. sebaiknya di tambahkan satu lagi contoh dari asumsi tersebut.
BalasHapusterima kasih
apa hubungan dari ketiga asumsi tersebut?
BalasHapussaya ingin menambahakan jawaban dari soal nomor 2 yaitu teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
BalasHapusTeori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
jadi dapat di simpulkan bahwa teori dual coding ini dapat di terapkan dalam pembelajaran kimia karena teori dual coding menggunakan channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. dalam pembelajaran kimia terdapat cukup banyak materi yang dapat di pakai menggunakan teori dual coding ini, seperti materi asam basa dimana kita dapat menggunakan media lab virtual,sehingga lebih memudahkan peserta didik dalam memproses informasi yang kita sajikan
assalamu'alaikum wr.wb saya ingin menambahakan jawaban nomor 1 Contoh media pembelajaran kimia yang digunakan dalam pembelajaran dapat berupa kartu game, papan deret Volta, atau dengan media computer berbentuk animasi. Media pembelajaran kelarutan, hasil kali kelarutan, dan koloid dapat menggunakan media komputer yang mendukung animasi sehingga memudahkan siswa dalam pemahaman. Materi kelarutan dan hasil kali kelarutan banyak terdapat konsep dan hitungan kimia sedangkan materi koloid berupa konsep-konsep kimia. Media pembelajaran yang dapat digunakan berupa animasi percobaan pada media komputer sehingga siswa memahami konsep-konsep. Selain itu, animasi komputer tersebut dapat dilengkapi dengan soal-soal untuk melatih pemahaman materi yang disajikan secara menarik sehingga mendorong siswa untuk berlatih dengan suasana yang lebih menyenangkan.
BalasHapusterimakasih atas partisipasi saudara/saudari sekalian di blog saya
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab pertanyaan saudari elsi .
BalasHapusPembelajaran lebih menekankan pada bagaimana cara agar tercapai tujuan tersebut. Dalam kaitan ini hal-hal yang tidak bisa dilupakan untuk mencapai tujuan adalah bagaimana cara menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.
HapusDalam konteks pengajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media, pendekatan dan metode pembelajaran, dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Berdasarkan uraian di atas, konsep perencanaan pengajaran dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu:
1. Perencanaan pengajaran sebagai teknologi
2. Perencanaan pengajaran sebagai suatu sistem
3. Perencanaan pengajaran sebagai sebuah
4. Perencanaan pengajaran sebagai sains (science)
5. Perencanaan pengajaran sebagai sebuah proses
6. Perencanaan pengajaran sebagai sebuah realitas
saya ingin mena mbahkan sedikit yaitu
BalasHapusContoh media yang dapat digunakan dalam pembelajaran kimia adalah : pada materi hidrokarbon, dapat di tampilkan gambar atau struktur suatu senyawa hidrokarbon melalui media infokus yang telah dibuat sebelumnya dalam bentuk soft file power point sambil memberikan penjelasan secara verbal sehingga pembelajar dapat memproses informasi baik melalui kanal visual maupun kanal verbal. Dan terjadi proses pengintegrasian yang terjadi apabila pembelajar membangun jalinan antara model verbal dan model visual. Ketika ingin menampilkan suatu gambar maka harus memperhatikan beberapa prinsip contohnya prinsip keterdekatan waktu dengan menyajikan gambar dan teks yang berhubungan secara bersamaan. Kemudian materi hidrokarbon disampaikan secara sistematis, terurut dan jelas. Misalnya dimulai dari pengertian hidrokarbon, jenis-jenis hidrokarbon, struktur senyawa hidrokarbon, sistem penamaan senyawa hidrokarbon, sifat-sifat senyawa hidrokarbon dan reaksi-reaksi senyawa hidrokarbon. Selain itu gambar dan teks yang disajikan tidak boleh ditampilkan secara berlebihan, karena adanya keterbatasan kapasitas dalam memproses informasi jika gambar atau teks yang disajikan terlalu berlebihan maka otak tidak dapat menyerap semua informasi untuk dapat disimpan kedalam memori jangka panjang.
terimakasih, semoga bermanfaat :)