TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
Multimedia memberikan kesempatan
bagi siswa untuk belajar tidak hanya dari sumber belajar seperti guru, tetapi
memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan kognitifnya dengan
lebih baik, kreatif,
dan inovatif. Pada pembelajaran berbantuan
multimedia informasi disajikan
dalam berbagai bentuk seperti teks, audio, video, grafik, dan animasi. Oleh
karena itu, siswa dapat memadukan berbagai informasi dari tampilan, lisan, dan
tulisan. Dengan menggunakan multimedia, kita dapat membuat pembelajaran menjadi
lebih menarik sehingga siswa tidak merasa bosan untuk belajar. Proses pembelajaran
yang efektif terletak pada optimalisasi cognitive load dalam kapasitas memori
kerja siswa yang terbatas. Oleh karena itu, dalam mendesain pembelajaran perlu
mempertimbangkan faktor tersebut. Teori yang
membicarakan cognitive
load disebut
Cognitive Load Theory.
Sweller mengungkapkan, “Cognitive Load Theory (CLT) began as
instructional theory based on our knowledge of human cognitive architecture
(Plass dkk, 2010:29). Menurut Cognitive Load Theory berkaitan dengan dua bidang
yaitu, struktur memori manusia (arsitektur kognitif) dan cara pemrosesan
informasi
(Cognitive
Load).
Teori pemrosesan informasi bermula
dari asumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam
perkembangan. Perkembangan salah satu hasil kumulatif dari pembelajaran.
Menurut teori ini, belajar merupakan proses mengelola informasi, namun teori
ini menganggap sisitem informasi yang diproses yang nantinya akan dipelajari
siswa adalah yang lebih penting. Karena informasi inilah yang akan menentukan
proses dan bagaimana proses belajar akan berlangsung akan sangat oleh sistem
informasi yang dipelajari.
Pemrosesan informasi itu sendiri
secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik
untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan
informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan
cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model
mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam
hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data,
menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu
menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan
orientasi utama pada modelnya mengarah kepada kemampuan siswa dalam
mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan
yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
Model belajar
pemrosesan informasi ini sering pula
disebut model kognitif information processing, karena
dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural
sistem informasi, yaitu:
1) Sensory
atau Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali
informasi diterima dari luar. informasi masuk ke sistem
melalui sensory register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk
aslinya, informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan
informasi tadi mudah terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti.
Agar tetap berada dalam sistem, informasi masuk
ke working memory yang digabungkan dengan informasi di
long-term memory. informasi masuk ke sistem
melalui sensory register, tetapi hanya disimpan
untuk periode waktu terbatas. Agar tetap
dalam sistem, informasi masuk ke working
memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2) Working
memory: Pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working
memory. Disini, berlangsung proses berpikir secara sadar. Working
Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi
perhatian (attention) oleh individu. Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh
peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa; 1) ia memiliki kapasitas yang
terbatas, lebih kurang 7 slots. Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan
kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya pengulangan atau rehearsal.
2) informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya.
Asumsi pertama berkaitan dengan penataan jumlah informasi, sedangkan asumsi
kedua berkaitan dengan peran proses kontrol. Artinya, agar informasi dapat
bertahan dalam WM, maka upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas WM
disamping melakukan rehearsal. Sedangkan penyandian pada tahapan
WM, dalam bentuk verbal, visual, ataupun semantik, dipengaruhi oleh peran
proses kontrol dan seseorang dapat dengan sadar mengendalikannya. Kelemahan
working memory sangat terbatas kapasitas isinya
dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term
memory, Long Term Memory (LTM) diasumsikan;
a) berisi semua
pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu,
b) mempunyai
kapasitas tidak terbatas, dan
c) bahwa sekali
informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
Dengan ungkapan lain, Tennyson
(1989) mengemukakan bahwa proses penyimpanan informasi merupakan proses
mengasimilasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang
selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan (knowledge base). yang
secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya
sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta
didik. Kelemahannya adalah betapa sulit
mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
Dalam mengartikan penyampaian informasi
dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar,
desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada
sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan
media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk
yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi
atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi
yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses
penerimaan informasi visual atau auditorial.
Berdasarkan
temuan riset linguistik, psikologi, antropologi
dan ilmu komputer, dikembangkan model
berpikir. Pusat kajiannya pada proses
belajar dan menggambarkan cara individu
memanipulasi simbol dan memproses informasi. Diasumsikan, ketika
individu belajar, di dalam dirinya
berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem
yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan
informasi ke dalam long-term memory
(materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah
(materi kreativitas).
Dalam upaya menjelaskan bagaimana
suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan dimunculkan
kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan
sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler
dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989). Teori-teori tersebut
umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992) yaitu:
a. Bahwa
antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi
dimana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b. Stimulus
yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun
isinya.
c. Salah
satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari
ketiga asumsi tersebut,dikembangkan teori tentang komponen struktur dan
pengatur alur pemrosesan informasi (proses control).
A.
Teori
Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Robert Mills Gagne
Berdasarkan kondisi internal dan
eksternal , Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model
proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan
informasi, yaitu sebagai berikut :
1. Rangsangan
yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai
informasi.
2. Informasi
dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori
jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori
ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap
kembali setelah dilakukan pengolahan.
Asumsi yang
mendasari teori-teori pemrosesan informasi menjelaskan tentang (1) hakekat
sistem memori manusia, dan (2) cara bagaimana pengetahuan digambarkan dan
disimpan dalam memori. Konsepsi lama mengenai memori manusia adalah bahwa
memori itu semata-mata hanya tempat penyimpanan untuk menyimpan informasi dalam
waktu yang lama, sehingga memori diartikan sebagai koleksi potongan-potongan
kecil informasi yang terlepas-lepas atau saling tidak ada kaitannya.
Menurut Gagne tahapan proses
pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,
(1) motivasi;
(2) pemahaman;
(3) pemerolehan;
(4) penyimpanan;
(5) ingatan kembali;
(6) generalisasi;
(7) perlakuan;
(8) umpan balik.
B.
Teori
Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Atkinson
Atkinson dan Shiffin dalam Levitin
(2002:296) menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu
sensori memori (sensory register) yang menerima informasi melalui indra
penerima seperti mata, telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah
beberapa detik informasi tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan
jangka pendek (short term memory atauworking memory).
Informasi tersebut setelah 5 – 20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam
ingatan jangka panjang (long term memory).
Dalam model pemrosesan informasi
yang dikembangkan oleh Atkinson & Shiffrin, kognisi manusia dikonsepkan
sebagai suatu labor yang terdiri dari tiga bagian, yaitu masukan (input),
proses dan keluaran (output). Informasi dari dunia sekitar merupakan masukan
bagi labor. Stimulasi dari dunia sekitar ini memasuki reseptor memori dalam
bentuk penglihatan, suara, rasa, dan sebagainya. Selanjutnya, input diproses
dalam otak. Otak mengolah dan mentransformasikan informasi dalam berbagai cara.
Proses ini meliputi pengkodean ke dalam bentuk-bentuk simbolis, membandingkan
dengan informasi yang telah diketahui sebelumnya, menyimpan dalam memori, dan
mengambilnya bila diperlukan. Akhir dari proses ini adalah keluaran, yaitu
perilaku manusia, seperti berbicara, menulis, interaksi labor, dan sebagainya.
Teori pemrosesan informasi berpijak
pada tiga asumsi sebagaimana dikemukakan Lusiana dalam Budiningsih (2005:82)
bahwa:
(a) antara stimulus
dan respon terdapat suatu seri pemrosesan informasi di mana pada masing-masing
tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu,
(b) stimulus yang
diproses melalui tahapan tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau
isinya, dan
(c)
salah satu dari tahap memiliki keterbatasan kapasitas.
Implikasi dari teori pemrosesan
informasi yang memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori
manusia seperti layaknya sebuah cara kerja komputer dan karena memori memiliki
keterbatasan kapasitas, pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa
dan menyediakan aplikasi berulang dan praktik secara individual agar informasi
yang diberikan mudah dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan
aplikasi komputer memiliki semuanya dengan kualitas yang sangat baik.
Dalam pemilihan dan penggunaan
multimedia dalam proses pembelajaran perlu memperhatikan karakteristik komponen
lain, seperti: tujuan, materi, strategi, dan juga evaluasi pembelajaran.
Karakteristik multimedia adalah:
1.
Memiliki lebih
dari satu media
yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur teks dan
visual.
2.
Bersifat interaktif, yaitu memiliki
kemampuan untuk mengakomodasikan respon pengguna.
3.
Bersifat mandiri, dalam pengertian
member kemudahan dan kelengkapan isi sehingga pengguna bias menggunakan tanpa
bimbingan dari orang lain.
Multimedia dalam proses pembelajaran
dapat digunakan dalam tiga fungsi, yaitu
(1) multimedia dapat
berfungsi sebagai alat
bantu instruksional,
(2)
multimedia dapat berfungsi
sebagai tutorial interaktif,
(3) multimedia
dapat berfungsi sebagai sumber petunjuk belajar.
Kemudian lima langkah dalam teori kognitif
tentang multimedia learning:
a) Memilih kata-kata yang relevan
b) Memilih gambar-gambar yang relevan
c) Menata kata-kata yang terpilih
d) Menata gambar-gambar yang terpilih
e) Memadukan representasi berbasis-kata dan
representasi berbasis-gambar.
Manfaat yang dapat diperoleh dari
pembelajaran berbantuan multimedia adalah
proses pembelajaran lebih
menarik, lebih interaktif,
jumlah waktu mengajar dapat
dikurangi, kualitas belajar dapat ditingkatkan, dan sikap belajar siswa dapat
ditingkatkan. Sedangkan keunggulan
pembelajaran berbantuan multimedia
adalah sebagai berikut.
a. Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak
tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri, elektron, dan lain-lain.
b. Memperkecil benda yang sangat besar, yang
tidak mungkin dihadirkan di sekolah, seperti gajah, rumah, gunung dan
lain-lain.
c. Menyajikan benda atau peristiwa yang
kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh
manusia, bekerjanya suatu mesin, beredarnya planet Mars, berkembangnya bunga
dan lain-lain.
d. Meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa.
Penerapan teori yang salah dalam
situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat
tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter,
komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang
harus dipelajari murid. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari para tokoh
behavioristik dianggap metode paling efektif untuk menertibkan siswa.
assalamualaikum, saya ingin bertanya mengenai salah satu contoh Penerapan teori yang salah?. karena pada blog anda terdapat bahwa penerapan teori yang salkah dalam situasi pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral bersikap otoriter, komunikasi berlangsung dalam satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari para tokoh behavioristik dianggap metode paling efektif untuk menertibkan siswa.
BalasHapussaya lukita sari ingin menambahkan sedikit tentang
BalasHapusKejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
assalamualaikum, saya ingin bertanya apa saja hambatan yang terjadi pada teori pemrosesan informasi, tolong anda jelaskan?
BalasHapusmenurut anda apa yang paling penting dari landasan teoritis multimedia pembelajaran ?
BalasHapusAssalamualaikum, saya ingin menambahkan sedikit ttg materi saudari
BalasHapusFleming dan Levie (dalam Budiningsih,2002) membatasi pesan pada pola-pola isyarat atau simbol yang memodifikasi perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor. Desain pesan berurusan dengan tingkat paling mikro melalui unit-unit kecil seperti bahan visual, urutan, halaman dan layar secara terpisah. Adapun karakteristik lain dari desain pesan adalah bahwa desain pesan harus bersifat spesifik baik terhadap medianya maupun tugas belajarnya. Hal ini mengandung arti bahwa prinsip-prinsip desain pesan akan berbeda tergantung apakah medianya bersifat statis, dinamis atau kombinasi dari keduanya, misalnya suatu potret, film, atau grafik komputer. Juga apakah tugas belajarnya berupa pembentukan konsep atau sikap, pengembangan ketrampilan atau strategi belajar, ataukah menghafalkan informasi verbal. Berdasarkan hasil dari suatu penelitian ditemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia pembelajaran mempengaruhi kualitas performansi dari pebelajar.
Maka, adapun beberapa teori yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan. Terima kasih
Assalamualaikum, saya ingin menambahkan sedikit ttg materi saudari
BalasHapusFleming dan Levie (dalam Budiningsih,2002) membatasi pesan pada pola-pola isyarat atau simbol yang memodifikasi perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor. Desain pesan berurusan dengan tingkat paling mikro melalui unit-unit kecil seperti bahan visual, urutan, halaman dan layar secara terpisah. Adapun karakteristik lain dari desain pesan adalah bahwa desain pesan harus bersifat spesifik baik terhadap medianya maupun tugas belajarnya. Hal ini mengandung arti bahwa prinsip-prinsip desain pesan akan berbeda tergantung apakah medianya bersifat statis, dinamis atau kombinasi dari keduanya, misalnya suatu potret, film, atau grafik komputer. Juga apakah tugas belajarnya berupa pembentukan konsep atau sikap, pengembangan ketrampilan atau strategi belajar, ataukah menghafalkan informasi verbal. Berdasarkan hasil dari suatu penelitian ditemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia pembelajaran mempengaruhi kualitas performansi dari pebelajar.
Maka, adapun beberapa teori yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan. Terima kasih
terimakasih atas partisipasi saudara/saudari sekalian di blog saya
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan saudari novani . Dalam pemrosesan informasi terdapat hambatan-hambatan. Berdasarkan (Cermak & Craik, dalam Craik & Lockhart, 2002), hambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
BalasHapusTidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan
Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan saudari miranda .Jerome S. Bruner, seorang peneliti terkemuka, memberikan beberapa gambaran tentang perlunya teori pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran di dalam kelas, serta beberapa contoh praktis untuk dapat menjadi bekal persiapan profesionalitas para guru.
BalasHapusBerdasarkan penelitian selama beberapa tahun terakhir, cukup jelas bagi saya ( Jerome S.Bruner), bahwa dari segi psikologis dan dari desain kurikulum itu sendiri, sangatlah minim dibahas tentang teori pembelajaran. Teori pembelajaran yang sudah ada selama ini, hanya terfokus pada kepentingan teoritis semata. Sebagai contoh, pada saat membahas tentang teori perkembangan, seorang anak tidak diajarkan pengaruhnya terhadap tantangan sosial dan bagaimana pengalaman nyata yang nantinya akan dialami anak ketika berada di masyarakat.
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan saudara soni.
BalasHapusPenggunaan media dalam proses pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas prestasi belajar. Diharapkan proses pembelajaran menjadi efektif, interaktif, dan efisien.
Hapus